Assalam. Hai blog, lama tak jumpa hehe. Saya nak kongsi perbualan ini setelah seorang sahabat yang berjaya pulihkan kembali ukhuwah filllah mereka. Alhamdulillah.
........................
Husna: Hihi. Kan kita yang minta nasihat teha hari tu suruh slow talk
Husna: Tapi saya tak boleh slow talk, sebab beliau selalu menjauhkan diri
Husna: So, sy tulis surat
Fatihah: Sweetnya 😂😍
Fatihah: Alhamdulillah happy for u 😆
Husna: Sambil tulis surat tu sambil nangis
Husna: Hihi
Husna: Memang tulis dari hati
Fatihah: MasyaAllah
Husna: Pastu minta doa dari teha
Husna: Dan doakan untuk dia juga
Fatihah: Alhamdulillah terharunya
Husna: Yakin dgn hadis, doa yang termakbul adalah doa seorang sahabat kepada sahabatnya dalam keadaan dia tak tahu kita doakan dia
Fatihah: Allahuakbar
Husna: Lagi satu, kak mariam pernah share. Doakan sahabat kita atau orang lain dgn ayat: Ya Allah, pandanglah dia dengan pandangan rahmatMu...dan terus doakan dia
Husna: Huhu..ayat yang sangat touching
Fatihah: Jazakillah khair husna..huhu
Husna: Jazakillahu khair juga teha
Husna: Nak nangis pulak sekarang
Fatihah: Hehe takde pape husna
Fatihah: Alhamdulillah rahmat Allah bagi terlalu besar..
Fatihah: Cuma kadang kala sebab dosa sendiri yang rasa terhijab dari rasa bersyukur tu ..huhu
Husna: Tapi saya tak tahu lagi sampai sekarang sebab apa dia mcm tu
Husna: Tunggu dia bagitahu sendiri (oh)
Husna: Alhamdulillah ada sahabat sekeliling yang prihatin
Fatihah: Alhamdulillah bersyukur dapat kenal husna juga
Husna: Alhamdulillah..teruskan ingatkan saya ya teha
Husna: Love you💋
Fatihah: Ahabbakilladzi ahbabtini lahu 💟
..........................
Solehahnya sahabat-sahabat ini. Ya Allah, Engkau jaga dan rahmatilah mereka yang berukhuwah kerana MU. Moga mereka dipertemukan kembali ke syurga Firdaus-MU. Aminn Ya Rabb.
"Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berperang di jalannya dalanm barisan yang teratur, mereka seakan-akan seperti suatu bangunan yang tersusun kukuh"As-Saff:2
Monday, 19 December 2016
Monday, 11 July 2016
Hukuman yang tidak terasa
Assalamualaikum wbt. Sudah lama tidak mencoret di sini. Menjenguk pun jarang sekali. Maafkan saya hamba yang penuh kekurangan ini. Alhamdulillah baru-baru ini mendapat mesej whatsaap yang bertajuk seperti tajuk post ini, Hukuman yang tidak terasa. Ya Allah selama ini Allah telah menghukum ku..hukuman yang membuat aku lebih jauh dari Mu. Ampunkan dosa-dosaku ya Allah..
Justeru aku ingin berkongsi dengan mereka yang sempat menjenguk post ini. Terimalah 'Hukuman yang tida terasa' moga mendapat ibrahnya. Aminn.
Seorang murid mengadu kepada gurunya: "Ustadz, betapa banyak kita berdosa kepada Allah dan tidak menunaikan hakNya tapi saya tidak melihat Allah menghukum kita".
Guru menjawab dengan tenang:
"Betapa sering Allah menghukum kamu tapi engkau tidak terasa"
"Sesungguhnya salah satu hukuman Allah yang terbesar yang menimpamu wahai anakku, ialah: Sedikitnya Taufiq yang Allah beri untuk mengamalkan ketaatan dan amal amal kebaikan".
Tidaklah seseorang diuji dengan musibah yang lebih besar dari "kekerasan hati dan kematian hati".
Sebagai contoh:
Sedarkah engkau, bahwa Allah telah mencabut darimu rasa bahagia dan senang dengan munajat kepadaNya, merendah diri kepadaNya, sujud di hadapanNya.
Sadarkah engkau tidak diberikan rasa khusyu' dalam solat..?
Sedarkah engkau, *bahwa beberapa hari2 mu telah berlalu dari hidupmu, tanpa membaca Al-Qur'an...?
Sedarkah engkau sudah tidak tersentuh dengan Ayat Ayat Al-Qur'an, seakan engkau tidak mendengarnya... ?
Sedarkah engkau bahawa telah berlalu berapa banyak malam yang panjang sedang engkau tidak melakukan Qiyamullail di hadapan Allah, walaupun terkadang engkau tidak tidur malam...?
Sadarkah engkau bahwa telah berlalu atasmu musim musim kebaikan seperti: Ramadhan.. Enam hari di bulan Syawwal.. Sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah dan lain2. tapi engkau belum diberi taufiq untuk memanfaatkannya...?
Hukuman apa lagi yang lebih berat dari itu..???
Engkau merasakan beratnya mengamalkan banyak ketaatan (amal ibadah)....?
Tidakkah Allah menahan lidahmu untuk berdzikir, beristighfar dan berdo'a kepadanya....?
Tidakkah terkadang engkau merasakan bahwa engkau mengalah di hadapan nafsu...?
Hukuman apa lagi yang lebih berat dari semua ini..???
Sedarkah engkau, amat mudah bagimu mengumpat, mengadu domba, berdusta, memandang rendah pada orang lain, memandang kepada yg haram..?
Sedarkah engkau, bahwa Allah membuatmu lupa kepada Akhirat, lalu Allah menjadikan dunia sebagai perhatian terbesarmu...?
Ini semua hanyalah beberapa bentuk hukuman Allah kepadamu, sedang engkau tidak menyedarinya...
Waspadalah wahai anakku kerana hukuman yang paling ringan dari Allah terhadap hambaNya ialah: Hukuman yang terasa pada harta, atau anak, atau kesehatan.
Sesungguhnya hukuman terberat adalah "Hukuman yang tidak terasa" iaitu pada kematian hati, lalu ia tidak merasakan nikmatnya ketaatan, dan tidak merasakan sakitnya dosa.
Wahai anakku, Perbanyaklah di siang dan malam mu, amalan taubat dan istighfar, semoga Allah menghidupkan hatimu...
Aminn ya Rabb.
Justeru aku ingin berkongsi dengan mereka yang sempat menjenguk post ini. Terimalah 'Hukuman yang tida terasa' moga mendapat ibrahnya. Aminn.
Seorang murid mengadu kepada gurunya: "Ustadz, betapa banyak kita berdosa kepada Allah dan tidak menunaikan hakNya tapi saya tidak melihat Allah menghukum kita".
Guru menjawab dengan tenang:
"Betapa sering Allah menghukum kamu tapi engkau tidak terasa"
"Sesungguhnya salah satu hukuman Allah yang terbesar yang menimpamu wahai anakku, ialah: Sedikitnya Taufiq yang Allah beri untuk mengamalkan ketaatan dan amal amal kebaikan".
Tidaklah seseorang diuji dengan musibah yang lebih besar dari "kekerasan hati dan kematian hati".
Sebagai contoh:
Sedarkah engkau, bahwa Allah telah mencabut darimu rasa bahagia dan senang dengan munajat kepadaNya, merendah diri kepadaNya, sujud di hadapanNya.
Sadarkah engkau tidak diberikan rasa khusyu' dalam solat..?
Sedarkah engkau, *bahwa beberapa hari2 mu telah berlalu dari hidupmu, tanpa membaca Al-Qur'an...?
Sedarkah engkau sudah tidak tersentuh dengan Ayat Ayat Al-Qur'an, seakan engkau tidak mendengarnya... ?
Sedarkah engkau bahawa telah berlalu berapa banyak malam yang panjang sedang engkau tidak melakukan Qiyamullail di hadapan Allah, walaupun terkadang engkau tidak tidur malam...?
Sadarkah engkau bahwa telah berlalu atasmu musim musim kebaikan seperti: Ramadhan.. Enam hari di bulan Syawwal.. Sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah dan lain2. tapi engkau belum diberi taufiq untuk memanfaatkannya...?
Hukuman apa lagi yang lebih berat dari itu..???
Engkau merasakan beratnya mengamalkan banyak ketaatan (amal ibadah)....?
Tidakkah Allah menahan lidahmu untuk berdzikir, beristighfar dan berdo'a kepadanya....?
Tidakkah terkadang engkau merasakan bahwa engkau mengalah di hadapan nafsu...?
Hukuman apa lagi yang lebih berat dari semua ini..???
Sedarkah engkau, amat mudah bagimu mengumpat, mengadu domba, berdusta, memandang rendah pada orang lain, memandang kepada yg haram..?
Sedarkah engkau, bahwa Allah membuatmu lupa kepada Akhirat, lalu Allah menjadikan dunia sebagai perhatian terbesarmu...?
Ini semua hanyalah beberapa bentuk hukuman Allah kepadamu, sedang engkau tidak menyedarinya...
Waspadalah wahai anakku kerana hukuman yang paling ringan dari Allah terhadap hambaNya ialah: Hukuman yang terasa pada harta, atau anak, atau kesehatan.
Sesungguhnya hukuman terberat adalah "Hukuman yang tidak terasa" iaitu pada kematian hati, lalu ia tidak merasakan nikmatnya ketaatan, dan tidak merasakan sakitnya dosa.
Wahai anakku, Perbanyaklah di siang dan malam mu, amalan taubat dan istighfar, semoga Allah menghidupkan hatimu...
Aminn ya Rabb.
Thursday, 30 June 2016
Do'a di Malam Lailatul Qadar yang Akan Mengubah Hidup Anda
Assalamualaikum wbt. Jemput tonton video ini dengan baki Ramadan yang tinggal beberapa hari je lagi ...
Sunday, 10 January 2016
Tempat Baru Saya 2
Assalamualaikum wbt.
Alhamdulillah setelah sekian lama blog ini tidak disentuh, akhirnya sekarang digerakkan hati ini oleh Pemilik Segala Hati, untuk membuat sedikit coretan di sini.
Saya alhamdulillah baik-baik sahaja sejak mendapat pekerjaan baru di sini. Ini merupakan pekerjaan saya yang kedua di Selangor sejak berhijrah dari Penang. Alhamdulillah semuanya dipermudahkan Allah swt. Sebenarnya saya bekerja di sini pada pertengahan bulan 4 2015 iaitu tahun lepas. Haa, sekarang baru nak cerita. Hehe.
Banyak perkara yang telah berlaku sejak kali terakhir saya membuat coretan di sini. Padahal tulisan saya yang lepas2, saya sudah pun berada di tempat baru ini. Cuma sekarang baru tergerak nak menaip. Sebenarnya, pada bulan 8 yang lalu saya telah kehilangan ibunda saya yang tercinta pada 10 akhir Ramadhan. Sungguh Allah lagi menyintainya berbanding saya, hamba yang hina dan dina ini. Alhamdulillah bila terbit rasa rindu yang mendalam sedekahkan sahaja Al-Fatihah buatnya sehingga hati rindu ini dapat terubat. Alhamdulillah. Umi, kakak sayang umi kerana Allah. Mohon juga disedekahkan AlFatihah buat umi saya yang berada di sana yang insyaAllah dapat bersama arwah abah saya juga..alhamdulillah.
Seiring dengan masa dan umur, semakin banyak perkara yang perlu ditempuhi. Sering kali rasa diri ini tidak sekuat dulu. Tidak seproduktif dulu. Sangat memerlukan kekuatan dari yang Maha Esa, Maha Kuat, agar dianugerahi diri ini kekuatan untuk menghadapi baki umur yang ada ini. Iyalah, kita pun tak tahu bila pula akan dijemput ilahi walaupun dikatakan tidak menghidapi penyakit.
Allahu. Ya Allah mohon ya Allah beri aku petunjuk untuk aku guna masa yang dianugerahimu untuk aku memperbanyakkan amalan ibadah dan bukannya menghabiskan masa yang diamanah begitu sahaja. Kekuatan untuk berdikari tanpa bergantung terus dengan orang lain. Kekuatan untuk terus istiqomah dalam melakukan amal kebajikan. Kekuatan untuk terus berbakti kepada ummah. Kekuatan untuk terus menulis ke arah kebaikan. Allahu. Astaghfirullahalazim. Ampunilah segala dosa- dosa ku ya Allah. Jangan kerana dosa-dosa ini menyebabkan aku semakin jauh darimu. Astaghfirullahalazim.
Selawat dan salam ke atas junjungan besar Nabi Muhammad saw, ahli keluarga baginda dan para sahabat baginda. Wallahamdulillahirabbil alamin.
Moga tulisan yang tak seberapa ini juga menjadi titik tolak untuk penulisan yang seterusnya. InsyaAllah, dengan kehendakNya.
Alhamdulillah setelah sekian lama blog ini tidak disentuh, akhirnya sekarang digerakkan hati ini oleh Pemilik Segala Hati, untuk membuat sedikit coretan di sini.
Saya alhamdulillah baik-baik sahaja sejak mendapat pekerjaan baru di sini. Ini merupakan pekerjaan saya yang kedua di Selangor sejak berhijrah dari Penang. Alhamdulillah semuanya dipermudahkan Allah swt. Sebenarnya saya bekerja di sini pada pertengahan bulan 4 2015 iaitu tahun lepas. Haa, sekarang baru nak cerita. Hehe.
Banyak perkara yang telah berlaku sejak kali terakhir saya membuat coretan di sini. Padahal tulisan saya yang lepas2, saya sudah pun berada di tempat baru ini. Cuma sekarang baru tergerak nak menaip. Sebenarnya, pada bulan 8 yang lalu saya telah kehilangan ibunda saya yang tercinta pada 10 akhir Ramadhan. Sungguh Allah lagi menyintainya berbanding saya, hamba yang hina dan dina ini. Alhamdulillah bila terbit rasa rindu yang mendalam sedekahkan sahaja Al-Fatihah buatnya sehingga hati rindu ini dapat terubat. Alhamdulillah. Umi, kakak sayang umi kerana Allah. Mohon juga disedekahkan AlFatihah buat umi saya yang berada di sana yang insyaAllah dapat bersama arwah abah saya juga..alhamdulillah.
Seiring dengan masa dan umur, semakin banyak perkara yang perlu ditempuhi. Sering kali rasa diri ini tidak sekuat dulu. Tidak seproduktif dulu. Sangat memerlukan kekuatan dari yang Maha Esa, Maha Kuat, agar dianugerahi diri ini kekuatan untuk menghadapi baki umur yang ada ini. Iyalah, kita pun tak tahu bila pula akan dijemput ilahi walaupun dikatakan tidak menghidapi penyakit.
Allahu. Ya Allah mohon ya Allah beri aku petunjuk untuk aku guna masa yang dianugerahimu untuk aku memperbanyakkan amalan ibadah dan bukannya menghabiskan masa yang diamanah begitu sahaja. Kekuatan untuk berdikari tanpa bergantung terus dengan orang lain. Kekuatan untuk terus istiqomah dalam melakukan amal kebajikan. Kekuatan untuk terus berbakti kepada ummah. Kekuatan untuk terus menulis ke arah kebaikan. Allahu. Astaghfirullahalazim. Ampunilah segala dosa- dosa ku ya Allah. Jangan kerana dosa-dosa ini menyebabkan aku semakin jauh darimu. Astaghfirullahalazim.
Selawat dan salam ke atas junjungan besar Nabi Muhammad saw, ahli keluarga baginda dan para sahabat baginda. Wallahamdulillahirabbil alamin.
Moga tulisan yang tak seberapa ini juga menjadi titik tolak untuk penulisan yang seterusnya. InsyaAllah, dengan kehendakNya.
Thursday, 3 September 2015
Hadhanah (Hak Penjagaan Anak)
Seperti yang disiarkan di laman web ISMADHL.
Benarkah ibu atau bapa yang bukan Islam boleh mendapat hak penjagaan anak apabila suami isteri itu berpisah? Untuk ketahui hal ini lebih lanjut sila baca artikel yang disunting daripada penceramah Ustaz Fauzi Asmuni mengenai tajuk, Hadhanah.
Bermulanya kontroversi mufti perlis yang mengeluarkan fatwa bahawa hak penjagaan anak adalah terhadap ibu atau bapa yang dapat menjamin kemaslahatan anak dari sudut perkembangan moral, emosi dan tumbesarannya iaitu syafaqah. Hadhanah ini timbul apabila penentuan siapa yang akan menjaga anak apabila seorang ibu atau bapa berpisah hidup dan mati. Isu hadhanah ini lebih utama apabila salah seorang ibu atau bapa yang berpisah, tidak beriman dengan agama Islam.
Kes tahun 2009 suami seorang muslim manakala isteri beragama hindu mempunyai 3 anak yang belum baligh. Si suami membawa kes ke mahkamah syariah dan akhirnya Berjaya mendapat hak hadhanah. Si bapa ini telah menukar nama anak-anaknya dan didik mereka dengan ajaran Islam. Kemudian si ibu menuntut kembali di mahkamah tinggi, lalu menang kes menuntut penjagaan anak-anak. Jadi berlaku konflik perundangan di sini kerana berlainan keputusan. Di sini akan diterangkan konsep hadhanah berdasarkan syarat dalam Islam.
Persoalan yang paling asas
Anak itu sepatutnya diserahkan kepada siapa? Kefahaman kebanyakan muslim adalah anak yang belum baligh mestilah diserahkan kepada ibu atau bapa yang ISLAM. Yang menjadi kontroversi adalah apabila mufti Perlis mengeluarkan fatwa bahawa anak yang belum baligh mesti dijaga oleh ibu atau bapa yang paling kuat kasih sayangnya atau syafaqah walaupun mereka bukan Islam.
Pandangan Ustaz Fauzi dan rakan-rakan (lulusan agama dan peguam-peguam muslim)
Mereka menyimpulkan isu agama sangat penting termasuklah hadhanah. Yang menjadi fokus di sini adalah anak yang belum baligh. Bagi yang sudah baligh tidak menjadi masalah kerana mereka boleh membuat keputusan sendiri. Seperti yang ramai maklum, seorang ibu lebih belas daripada seorang ayah. Kita juga maklum bahawa membesarkan anak-anak menjadi muslim yang baik adalah menjadi tanggungjawab ibu bapa, masyarakat, jiran tetangga dan bahkan Negara!
Kepentingan menjaga aqidah Islam seseorang anak itu adalah berdasarkan dalil Nabi Ibrahim memberi wasiat kepada keturunannya;
“Dan (ingatlah) ketika Nabi Ibrahim bersama-sama Nabi Ismail meninggikan binaan asas-asas (tapak) Baitullah (Kaabah) itu, sambil keduanya berdoa dengan berkata: “Wahai Tuhan kami! Terimalah daripada kami (amal kami); sesungguhnya Engkaulah yang Maha Mendengar, lagi Maha mengetahui;”2:127
“”Wahai Tuhan kami! Jadikanlah kami berdua: orang-orang Islam (yang berserah diri) kepadaMu, dan jadikanlah daripada keturunan kami: umat Islam (yang berserah diri) kepadamu, dan tunjukkanlah kepada kami syariat dan cara-cara ibadat kami, dan terimalah taubat kami; sesungguhnya Engkaulah Maha Penerima taubat, lagi Maha Mengasihani;” 2:128
“(Ingatlah) ketika Tuhannya berfirman kepadanya: “Serahkanlah diri (kepadaKu wahai Ibrahim)!” Nabi Ibrahim menjawab: “Aku serahkan diri (tunduk taat) kepada Tuhan Yang Memelihara dan mentadbirkan sekalian alam”.”2:131
Termasuk juga Nabi Yakub:
“(Demikianlah wasiat Nabi Yaakub, bukan sebagaimana yang kamu katakan itu wahai orang-orang Yahudi)! Kamu tiada hadir ketika Nabi Yaakub hampir mati, ketika ia berkata kepada anak-anaknya: “Apakah yang kamu akan sembah sesudah aku mati?” Mereka menjawab: “Kami menyembah Tuhanmu dan Tuhan datuk nenekmu Ibrahim dan Ismail dan Ishak, iaitu Tuhan yang Maha Esa, dan kepadaNyalah sahaja kami berserah diri (dengan penuh iman)”.”
Wasiat Luqmanul Hakim kepada anaknya yang pertama adalah larangan mensyirikkan Allah SWT;
“Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, semasa ia memberi nasihat kepadanya:” Wahai anak kesayanganku, janganlah engkau mempersekutukan Allah (dengan sesuatu yang lain), sesungguhnya perbuatan syirik itu adalah satu kezaliman yang besar.”31:13
Dalil-dalil ini menunjukkan kewajipan ibu bapa mendidik anaknya menjadi muslim sehinggalah ke akhir hayatnya. Hal ini penting kerana dosa orang yang kafir terhadap Allah adalah dosa yang sangat besar kerana Allah tidak akan mengampuni dosa mereka sehinggalah mereka bertaubat dengan sesungguhnya iaitu taubat nasuha. Manakala dosa selain dari itu akan terhapus walaupun tidak meminta taubat dengan syarat melakukan amalan-amalan yang baik seperti berwuduk, bersedekah, zikirullah dan lain-lain.
Manakala dosa syirik Allah tidak akan ampun dengan begitu mudah. Ingatkah lagi kisah Abu Talib bapa saudara Rasulullah SAW yang begitu banyak berjasa kepada Rasulullah dalam menyampaikan dakwah kepada umat? Malangnya beliau tidak turut beriman bersama sahabat yang lain dan memilih untuk tetap agamanya walaupun ajalnya bakal menjemput ketika itu. Sahabat bertanya kepada Rasulullah SAW balasan apakah terhadap bapa saudara Rasulullah SAW yang banyak berjasa itu walaupun beliau bukan muslim? Rasulullah SAW hanya mampu berdoa supaya diringankan azab kepada bapa saudaranya itu. Iaitu kakinya dibakar sehingga menggelegak otaknya.
Kenapa Abu Talib yang baik itu tetap mendapat azab walaupun beliau begitu baik kepada Rasulullah SAW? Hal ini tidak lain dan tidak bukan kerana Abu Talib mensyirikan Allah Azzawajalla.
Mari kita susuli pula dengan kisah Saidina Umar al Khattab ketika menjadi Khalifah. Semasa pemerintahan Saidina Umar, perluasan kuasa berlaku dengan rancak sehingga tentera Islam ketika itu berjaya menawan salah satu jajahan Rom. Ketika itu terdapat seorang sahabat ingin menikah dengan Wanita ahli kitab (Kristian). Saidina Umar tidak membenarkan sahabat itu menikah dengan Wanita itu walaupun ada dalil al-Quran membenarkannya. Saidina Umar khuatir hasil pernikahan itu anak mereka tidak akan terjamin agamanya sama ada Islam atau Kristian. Pada asalnya kenapa terdapat dalil yang membenarkan lelaki Islam menikah dengan Wanita ahli kitab kerana lelaki Islam akan menjadi dominan sebagai ketua keluarga lalu hasil pernikahan itu anak-anak akan terjamin agama Islamnya. Manakala terdapat lelaki Islam yang tidak dominan selepas menikahi Wanita ahli kitab pada ketika itu kerana mereka menikahi wanita yang buruk akhlaknya sehingga menjadikan lelaki Islam itu tidak dominan.
Sebenarnya ketika Saidina Umar menghalang sahabat itu menikahi wanita ahli kitab tersebut, peristiwa ini telah mencetuskan kontroversi dalam kalangan sahabat. Walaubagaimanapun akhirnya ia dapat menyelesaikan masalah larangan orang Islam menikahi ahli kitab kerana walaupun dia ahli kitab dia masih lagi seorang kafir. Hal ini menunjukkan penentuan agama pasangan adalah sangat penting bagi menjaga aqidah anak yang bakal dilahirkan.
Dalil-dalil umum ini kebanyakan daripada mazhab Hanafi, Maliki dan Shafie. Jelas dalam mazhab shafie anak mestilah diberi hak penjagaan kepada orang Islam dan yang paling baik agamanya. Misalnya apabila berlaku situasi berikut, maka pilihannnya adalah:
Islam vs Islam = paling baik agamanya
Islam vs kafir = Islam
Kristian vs Yahudi = Kristian
Yahudi vs Hindu = Yahudi
Jelas dalam Islam orang kafir tidak boleh menjadi wali (penguasa/penjaga) kepada orang Islam. Penting memilih wali yang betul kerana walilah yang berkuasa membuat sesuatu keputusan kepada si anak.
Ketahuilah bahawa Allah tidak akan sesekali memberi peluang dan ruang kepada orang kafir walau sedikitpun. Sesungguhnya Islam itu tinggi, tiada yang lebih tinggi melainkan Islam. Berikut antara dalil ketinggian Islam:
“Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan dan tidak (pula) pada hari kemudian, dan mereka tidak mengharamkan apa yang diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya dan tidak beragama dengan agama yang benar, iaitu dari orang-orang yang diberikan Kitab (kaum Yahudi dan Nasrani), sehingga mereka membayar “Jizyah” dengan keadaan taat dan merendah diri.” 9:29.
Kaedah yang dipegang oleh jumhur ulamak adalah semua anak-anak yang baru dilahirkan adalah suci atau dalam keadaan fitrah iaitu lahir sebagai Islam. Ibu bapalah yang menjadikan mereka yahudi, nasrani mahupun majusi.
Sekarang sudah jelas mengenai hadhanah bahawa anak haruslah diberi kepada orang Islam. Yang menjadi kekeliruan umat sekarang adalah apabila Majlis Fatwa Perlis mengeluarkan fatwa bahawa dalam mazhab Hanafi dan Maliki membenarkan anak yang belum baligh diberikan kepada ibu atau bapa yang paling tinggi syafaqahnya walaupun bukan beragama Islam. Adakah benar kedua-dua imam besar ini mengeluarkan fatwa sedemikian? Jawapannya adalah benar.
Walau bagaimanapun kedua-dua mazhab tersebut menetapkan syarat yang begitu ketat jika hak penjagaan anak diberi kepada ibu atau bapa yang bukan muslim. Syarat tersebut adalah anak-anak itu hendaklah dijaga dengan cara hidup Islam supaya dia mendapat didikan yang sewajar sebagai muslim. Syarat itu begitu ketat dan teliti sehingga diterangkan satu persatu yang anak itu hendaklah tidak diberi minuman arak, tidak diberi makan khinzir, tidak ajak ke rumah ibadat selain Islam, si ibu atau bapa hendaklah dipastikan tinggal di sekelilingnya adalah orang Islam dan lain-lain lagi. Jika khuatir ibu atau bapa tidak boleh menjaga anak itu dengan didikan Islam yang baik maka anak itu hendaklah diserahkan kepada sekumpulan orang Islam yang boleh memberi didikan agama yang baik kepadanya.
Almarhum Dr. Wahbah Zuhaili juga menafsirkan hal yang sama iaitu hendaklah anak itu bersama dengan ibu atau bapanya yang bukan muslim hingga habis tempoh penjagaan. Sepanjang tempoh penjagaan anak itu mesti tidak didedahkan dengan hal-hal yang haram dalam Islam. Jika khuatir mereka akan lakukannya, maka anak itu hendaklah diserahkan kepada salah seorang muslim yang boleh mengelakkan anak-anak itu menjadi rosak. Rosak di sini termasuklah rosak aqidah. Fatwa ini jika mengikut situasi di Malaysia, ia sangat sukar dilaksanakan memandangkan rakyat di Negara kita adalah berbilang kaum dan agama.
Bagi hukum hadhanah yang umum, anak haruslah diberi kepada ibu jika tidak kepada nenek dan seterusnya. Yang paling utama anak itu hendaklah dibesarkan dengan cara muslim. Apa yang berlaku di Malaysia sebelum ini, ibu atau bapa yang berusaha mendapat anak itu bukanlah melibatkan syaqafah tetapi tidak mahu anaknya menjadi muslim sehinggakan sanggup menukar nama anak mereka kepada nama bukan Islam.
Ada yang menyokong tindakan bukan Islam boleh jaga anak adalah berdasarkan hadis Rasulullah SAW pernah memberi pilihan anak itu memilih ibu atau bapa. Di sini menunjukkan Rasulullah tidak mewajibkan penjaga anak itu muslim. Si bapa yang merupakan muslim meminta pandangan Rasulullah SAW, manakala si ibu turut meminta pandangan Rasulullah sebagai ketua Negara akan hal ini. Apakah yang Rasulullah SAW lakukan? Rasulullah SAW menyuruh si anak itu pergi ke tengah-tengah antara ibu dan ayahnya. Lalu Rasulullah SAW menyuruh ibu dan bapa tersebut memanggil anak tersebut. Pada awalnya anak itu berpaling ke arah ibunya. Melihat itu, Rasulullah SAW berdoa yang bermaksud; “Ya Allah berilah petunjuk kepadanya”. Lantas anak itu berpaling kepada bapanya yang muslim itu. Jelas di sini menunjukkan walaupun Rasulullah SAW memberi pilihan kepada anak itu memilih antara ibu dan bapa tetapi tidak redha jika anak itu memilih ibunya yang bukan muslim sehingga berdoa kepada Allah SWT. Dalam sejarah Rasulullah SAW dan sahabat tidak pernah diberi hak penjagaan kepada yang bukan Islam.
Kes yang melibatkan bukan Islam yang menjaga anak Islam adalah kes yang terpencil. Kes ini boleh berlaku apabila ibu atau bapa yang Islam tidak layak menjaga anak kerana masalah kewangan yang sangat teruk atau terlibat dengan akhlak yang buruk, kaki pukul misalnya. Jadi mazhab Hanafi dan mazhab shafie boleh diguna pakai tapi dengan meletakkan syarat yang ketat seperti juga yang digariskan oleh kedua-dua mazhab tersebut.
Kesimpulannya, Islam sangat menitikberatkan penjagaan anak-anak kecil. Siapakah penjaga mereka? Bagaimana mereka dijagakan? Hal ini adalah semata-mata untuk melahirkan umat Islam yang hebat lagi diredhai Allah SWT. Oleh itu, hadhanah perlulah dititikberatkan terutamanya bagi anak-anak yang belum baligh supaya memilih orang Islam sebagai penjaga, yang mempunyai belas kasihan yang tinggi, meletakkan syarat yang ketat kepada penjaga terutama penjaga bukan Islam. Pandangan jumhur lebih menepati iaitu mengutamakan orang Islam sebab hadhanah bukan sekadar perebutan penjagaan anak milik siapa tetapi demi menjaga agama anak itu agar terus terjamin. Hal ini juga bukanlah sesuatu yang enteng kerana bukan sahaja melibatkan ibu bapa anak itu sahaja bahkan masyarakat dan Negara iaitu mestilah memastikan anak itu membesar dengan didikan Islam yang baik sehingga anak itu baligh terutamanya.
Wallahua’lam.
Monday, 11 May 2015
Thursday, 26 March 2015
Jadilah Hamba yang Bersyukur! - Kisah Teladan
Pada zaman Nabi Musa AS, terdapat seorang yang miskin datang menghadap Nabi Musa AS. Orang itu begitu miskin sehingga pakaian yang dipakainya bercompang-camping, lusuh lagi berdebu.
Si miskin itu kemudian berkata kepada Nabi Musa AS, "Ya Nabiyullah, doakanlah untukku agar Allah SWT menjadikan aku orang yang kaya-raya."
Nabi Musa AS tersenyum mendengar permintaan si miskin itu lalu berkata, "Wahai saudaraku, bersyukurlah kamu kepada Allah SWT dengan sebanyak-banyaknya."
Si miskin itu terkejut dan berasa kesal dengan jawapan Nabi Musa AS lalu berkata, "Bagaimana aku dapat bersyukur jika makan pun aku jarang-jarang manakala baju yang aku miliki hanya ini sahaja," katanya sambil menunjuk-nunjuk baju compang-campingnya itu. Akhirnya si miskin itu pulang dengan hampa.
Beberapa waktu kemudian datang seorang kaya menghadap Nabi Musa AS. Orang itu bersih badannya dan rapi pakaiannya.
Si kaya itu berkata kepada Nabi Musa AS, "Wahai Nabiyullah, doakanlah untukku agar aku menjadi orang miskin kerana terkadang aku merasa terganggu dengan hartaku itu."
Nabi Musa AS juga tersenyum dengan permintaan si kaya itu lalu berkata, "Wahai saudaraku, janganlah kamu bersyukur kepada Allah SWT."
Segera dijawab si kaya itu, "Ya Nabiyullah, bagaimana aku tidak bersyukur kepada Allah SWT? Allah SWT telah memberikan aku mata yang dengannya aku dapat melihat. Memberiku telinga yang dengannya aku dapat mendengar. Allah SWT juga telah menganugerahkan aku tangan yang dengannya aku dapat bekerja dan telah memberikan aku kaki yang dengannya aku dapat berjalan. Katakanlah kepadaku, bagaimana mungkin aku tidak mensyukuri-Nya?" jawab si kaya itu dengan mantap. Akhirnya si kaya itu pulang ke rumahnya.
Setelah itu, menjadilah si kaya itu semakin kaya kerana Allah SWT telah menambah kekayaannya kerana dia selalu bersyukur. Manakala si miskin itu menjadi bertambah miskin kerana Allah SWT telah mengambil kembali banyak nikmat-nikmat yang diberikan kepada si miskin itu yang lupa sekali untuk mensyukurinya termasuklah pakaian compang-campingnya itu!
Sekian. Jom jadi hamba Allah yang sentiasa bersyukur! Alhamdulillah.
Sumber yang diubah suai diambil dari: http://tanbihul_ghafilin.tripod.com/1001kisahteladan4.htm
Subscribe to:
Posts (Atom)